Membangun Ketahanan: Bagaimana Pemimpin Pembelajaran Dapat Berkembang Selama Masa Perubahan

Mengatasi kesulitan membantu kita menghargai apa yang sering kita anggap remeh, dan beberapa tahun terakhir telah menarik keluar permadani dari keamanan kita dan menunjukkan kepada banyak dari kita betapa rentannya kita dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian.

Masalah terus berlanjut — perang, inflasi, logistik global, Pengunduran Diri Besar-Besaran — dan kita semua harus memutar strategi bisnis dan menguji kemampuan kita agar gesit. Jika kita tidak meluangkan waktu untuk merenungkan seberapa baik kita beradaptasi dengan setiap krisis, bagaimana kita bisa belajar darinya dan sebagai hasilnya menjadi lebih tangguh?

Di sini, kita akan menjelajahi beberapa pertanyaan utama untuk membantu melatih para profesional dan tim mereka menanggapi kesulitan: Apa yang berhasil dengan baik, apa yang dapat ditingkatkan, dan apa yang dibutuhkan untuk membangun ketahanan sekarang dan di masa depan? Organisasi harus mengalokasikan waktu untuk pelatihan dan refleksi untuk memastikan pelajaran ketahanan dan sebagai hasilnya organisasi yang lebih gesit dibangun.

Ketahanan: Keterampilan Penting untuk Pemimpin Pembelajaran Modern
Persyaratan menjadi tangguh menjadi salah satu kompetensi yang paling diinginkan oleh para pemimpin (termasuk pemimpin pembelajaran) masa depan. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketahanan bertindak sebagai penyangga terhadap stres dan kelelahan dan bahwa orang yang tangguh cenderung lebih kreatif, mampu beradaptasi dengan perubahan di masa depan dan menempuh jarak dalam menghadapi kesulitan.

Namun, dengan cepat berpindah dari satu tantangan ke tantangan lainnya dapat menghilangkan kemampuan bahkan yang paling mampu melatih para profesional sekalipun, karena perasaan tidak berdaya dan apatis dapat muncul saat kecemasan dan stres meningkat. Dalam iklim ketidakpastian saat ini, ada bahaya kelelahan yang jelas dan saat ini, yang semakin menambah perasaan tidak berdaya di seluruh organisasi.

Kabar baiknya adalah bahwa ketahanan dapat dibangun di seluruh organisasi dengan membantu individu dan tim untuk merenungkan titik-titik tekanan dan bagaimana mereka bereaksi terhadapnya.

Siklus Ketahanan yang Berkembang adalah struktur yang berguna di mana manajer pelatihan dan tim mereka dapat mengidentifikasi empat tahap psikologis untuk mengatasi perubahan dan kesulitan. Kemampuan Anda untuk bergerak melalui siklus tergantung pada tingkat ketahanan Anda.

Tahap 1: Bertahan
Tahap Bertahan adalah bagaimana seseorang pada awalnya merespons kesulitan. Perasaan takut dan cemas sering terjadi pada tahap ini. Beginilah cara otak terhubung untuk merespons.

Tujuan dari tahap ini adalah untuk tidak terjebak di sana. Ini tentang menemukan cara untuk mengalihkan perhatian dari ketakutan dan kecemasan, dan menuju emosi yang lebih positif dan konstruktif, seperti penerimaan, harapan, dan penghargaan.

Salah satu cara untuk bergerak ke arah ini adalah dengan menggunakan bahasa positif sehingga alih-alih memikirkan bagaimana hal-hal bisa salah atau hal-hal negatif apa yang akan datang dari perubahan, pikirkan hal-hal positif apa yang bisa dihasilkan.

Tahap 2: Beradaptasi
Tahap Adaptasi adalah di mana penyesuaian dilakukan untuk mengatasi perubahan dan kesulitan. Tahap ini sering dikaitkan dengan perasaan yang lebih positif daripada tahap Bertahan, seperti penerimaan, toleransi, dan kasih sayang.

Penting untuk menyadari bahwa beradaptasi dengan kesulitan tidak sama dengan pulih dari kesulitan. Tahap ini adalah jendela sementara untuk mengatasi, memungkinkan penyesuaian untuk perubahan terjadi.

Hal yang harus diperhatikan dalam tahap ini adalah menghindari terjebak dalam keadaan pasrah tak berdaya dan apatis. Kunci untuk menyesuaikan dan mengatasi untuk pindah ke tahap berikutnya adalah mengelola stres yang datang dari tantangan keadaan baru kita.

Teknik manajemen stres tradisional seperti latihan pernapasan dan meditasi dapat berguna pada tahap ini, serta pengembangan rutinitas baru. Bagian emosional otak lebih menyukai prediktabilitas karena memberikan keamanan dan mengantisipasi bahaya. Namun, jika tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, itu akan meningkatkan adrenalin dan kewaspadaan, yang menyebabkan peningkatan stres dan kelelahan. Menciptakan rutinitas baru memberi otak struktur, dan karena itu waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri.

Tahap 3: Pulih
Tahap Puliah adalah di mana Anda bangkit kembali dari kemunduran dan kesulitan. Di sini, perasaan frustrasi, bosan dan marah biasanya hadir. Perasaan ini dapat dibalik untuk memotivasi perubahan positif dan mengungkapkan beberapa kekuatan tersembunyi termasuk tekad, keberanian, dan sumber daya, yang semuanya merupakan kunci dalam mengembangkan pelatihan yang berdampak selama masa-masa sulit.

Untuk memudahkan transisi ke tahap ini, fokuslah untuk merangkul perubahan. Membingkai ulang pemikiran Anda untuk mempertimbangkan apa yang telah berubah dan tindakan apa yang diperlukan untuk bergerak maju, meskipun itu selangkah demi selangkah.

Tahap 4: Berkembang
Akhirnya, tahap Berkembang adalah di mana pertumbuhan dan ketahanan setelah kesulitan terjadi. Harapan, optimisme, dan kepercayaan diri adalah perasaan umum dalam tahap Berkembang. Perasaan ini mengarah pada perilaku yang membantu orang merenungkan pengalaman, memikirkan masa depan dan sebagai hasilnya menjadi lebih kuat.

Kunci untuk benar-benar belajar dan tumbuh dari kesulitan di tahap ini adalah dengan memberikan waktu untuk melambat dan merenung sebelum tantangan atau krisis lain terjadi. Tanyakan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut untuk menentukan seberapa baik Anda menanggapi krisis:

  • Bagaimana Anda menanggapi krisis pada awalnya? Apakah Anda tenang, kesal, marah atau lega?
  • Bagaimana Anda belajar beradaptasi dan mengatasinya? Misalnya, apakah Anda mencari dukungan dari orang lain atau mengubah harapan dan/atau perilaku Anda?
  • Kekuatan pribadi apa yang membantu Anda melewati krisis? Apakah Anda menemukan tingkat ketahanan batin, tekad yang lebih kuat, atau fleksibilitas yang lebih besar?
  • Apa yang Anda pelajari dari pengalaman? Bagaimana krisis membuat Anda menjadi pemimpin pembelajaran yang lebih kuat?

Membangun Ketahanan Masa Depan Melalui Pembelajaran
Refleksi diri bisa terasa tidak nyaman, terutama jika itu belum pernah menjadi bagian dari budaya organisasi sebelumnya, tetapi itu penting untuk kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang. Bergerak maju dari situasi atau lingkungan yang menantang dapat membekali Anda dengan wawasan yang lebih besar tentang kekuatan Anda dan cara mengatasi kesulitan. Akibatnya, Anda akan lebih mampu mengatasi hambatan apa pun yang menghadang Anda dan memanfaatkan pembelajaran Anda untuk membawa perubahan positif dalam organisasi Anda — dan dalam hidup Anda.